Lagi dan lagi partikel-partikel asing itu menggangguku. Kerap kali aku tidak tahan. Ingin rasanya aku berubah menjadi makhluk apa saja asal bukan diriku yang sekarang. Ego-ku selalu berteriak Tuhan memang tidak adil. Bahkan sekarang hal-hal yang sangat membuatku menderita ini malah dijadikan sarana memperoleh sesuap nasi oleh makhluk berkaki dua yang rakus di daratan sana. Aku terluka. Sakit. Iritasi. Tapi justru itu yang menjadi kesenangan mereka. Epithelium mantelku sudah hampir kehabisan nacre-nya. Untungnya Tuhan masih berbaik hati membuat itu tidak akan pernah habis.


Aku sadar bahwa dengan deritaku orang lain bisa berbahagia bahkan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain atau mungkin membuat orang lain menderita karena tidak mampu seperti mereka. Tapi aku tak bisa berbuat apapun. Lagi-lagi aku bisa mengutuk berkali-kali jika mengingat ini. Kaki tidak punya. Tangan juga. Bisa apa aku ini. Sigh.
Enam Bulan Kemudian
Sepertinya partikel padat itu sudah cukup menggumpal dalam rongga mantelku. Dan sepertinya memang ini saatnya manusia rakus itu mengambilnya sebagai keuntungan. Enam bulan terakhir ini aku hanya berpikir. Berpikir sangat dalam kalau kata "hanya" itu terkesan sepele. Memang partikel asing itu sangat menyakitiku, membuatku iritasi. Tapi aku juga tak ada arti tanpa kesakitan itu. Justru lewat rasa sakit itu aku menghasilkan sebuah benda padat bulat yang bersinar. Benda yang mengangkat "gengsi" manusia, yang katanya makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan. Jadi aku bisa membuat mereka lebih merasa sempurna lewat hasil dari rasa sakitku itu. Berarti aku jauh lebih sempurna. Aku ada di balik layar terangkatnya kesempurnaan mereka. Yah dan ternyata benda asing yang menyakitkan dan luka yang kurasakan memang tidak membuatku jadi lebih baik secara nyata. Tapi pada hakikatnya Ya! Dan aku pun tersenyum untuk menikmati kembali kesakitan yang sempurna itu. Selamat datang enam bulan mendatang.
0 comment:
Posting Komentar