Jumat, 20 Mei 2011

Penyesalan Kucing

Aku terus saja merapatkan diri di bagian belakang kandang sementara tangan-tangan kecil itu terus saja ingin menggapaiku. Aku tak mau lagi, tak mau menyesal lagi. Memang aneh, biasanya jenisku suka sekali berlarian keluar, memeluk tuannya, memainkan benang bahkan menaiki dan mencabik2 sofa. Namun sudah dua tahun belakangan ini aku tak mau lagi. Hidupku bagai asing dari aturannya.


Kala itu, seorang gadis kecil memilihku dari pet shop. Ia tersenyum padaku dari balik kaca dan aku pun merasa suka padanya. Tumbuh bersama, ia merawatku dengan baik. Tubuhku yang dulu kerempeng sekarang mulai berisi, gagah. Ya, kebetulan aku memang pejantan karena orang tua si gadis kecil tidak mau banyak kucing-kucing kecil tumbuh. Bulu-buluku yang dulu bahkan tidak mampu menutupi seluruh bagian tubuhku kini tumbuh lebat. Entah apa yang telah diberikannya padaku. Namun aku merasa senang, bukan karena perubahan dalam diriku saja tapi juga karena aku menyayangi dia, bahkan jatuh cinta kepadanya. Aneh memang, tapi itu yang kurasakan.


Hari itu, pagi yang indah. Seperti biasa, gadis kecil itu selalu mengajakku bermain keluar kandang di minggu pagi. Kami melompat bersama, bercengkrama, aku mengeluskan leherku di pergelangan kakinya. Mungkin karena sudah seminggu lebih ia tak bertemu denganku, terpancar kerinduan mendalam dari matanya. Ia melihat dalam ke arahku, dan berkata bahwa aku tampak lebih lucu dan menggemaskan, buluku terlihat indah. Ia pun menggendongku, memelukku erat, sangat erat bahkan terlalu erat sehingga aku tidak bisa bernapas. Otakku mulai kekurangan oksigen dan aku mulai tak terkendali. Hanya teriakan itu saja yang kuingat jelas, yang semakin lama semakin hilang. Dan tak terdengar lagi, baik teriakan, canda bahkan suaranya yang meniru suaraku.


Kini aku lebih sering meminta ikan asin, agar bulu-bulu ini merontok. Aku tak mau lagi menjadi lucu dan menggemaskan. Aku tak mau lagi memeluk manusia apalagi dipeluk. Aku tak mau lagi bersentuhan dengan makhluk berkaki dua itu. Bukan, bukan karena aku benci mereka tapi justru karena aku benci diriku sendiri. Diriku yang pernah menyakiti salah satu dari mereka yang sangat kusayangi, yang kucintai. Dan kini, kubalas dengan menyakiti diriku sendiri yang sepi dan tak berkawan lagi.








0 comment:

Posting Komentar