Kamis, 19 Mei 2011

Belajar Sabar dari Pisau




Lelah dan tak bersemangat namun semakin tajam, walau begitu pisau terus meratapi dirinya yang merasa tak berguna. Ia pernah digunakan, dulu sekali waktu si pria tua ingin memasak bayam. Tetapi, itu pun tak lama, pisau kemudian hanya diasah saja setelah itu kembali ke dalam lemari kaca. Si pria tua dulu menemukannya diantara rongsokan besi, kemudian diamplas, ditempa dan diasah. Hal yang terakhir yang paling sering dilakukan. Suatu hari si pria tua membuka lemari kaca dan mengambil pisau, betapa gembiranya pisau karena ia mengira akan bertemu buah, sayur atau setidaknya cabai. Namun lagi-lagi besi asahan yang ditemuinya, hingga bosan.

Tapi tak lama ia melihat wajan, kompor, panci dan teman-temannya. Si pria tua membuka lemari pendingin dan mengambil tuan apel dari dalam. Yap, akhirnya pisau bertemu dengan apel, betapa rindu ia merasakan tubuhnya bergesekan dengan benda lain selain logam, betapa ia ingin mendengar “duk” saat ia mendarat di talenan.

Akhirnya, setelah 22 tahun terus diasah, ia merasa bisa menjadi pisau sebagaimana hakikatnya. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Ya, hanya sekali itu saja, ia pun masuk lagi ke lemari kaca dan berkawan dengan asahan. Terus seperti itu tanpa pernah lagi ia merasakan perasaan saat menyentuh apel tiga tahun yang lalu.

Di dalam lemari kaca, pisau terus menghujat dirinya. Ia merasa benci, teramat sangat. Bukan hanya kepada si pria tua yang tidak mengacuhkannya, tapi juga kepada dirinya sendiri karena tak berguna. Di ujung pintu si pria tua pun masuk dengan membawa plastik berisi seonggok daging, ia menaruhnya di lemari pendingin. Ia pun melangkah ke lemari kaca. Si pria tua pun tersenyum lebar sambil memandangi pisau yang selama ini terus-menerus diasahnya. Ya, inilah waktu yang tepat!

0 comment:

Posting Komentar