Kamis, 26 Mei 2011

Rasa Sakit yang Menyempurnakan

Lagi dan lagi partikel-partikel asing itu menggangguku. Kerap kali aku tidak tahan. Ingin rasanya aku berubah menjadi makhluk apa saja asal bukan diriku yang sekarang. Ego-ku selalu berteriak Tuhan memang tidak adil. Bahkan sekarang hal-hal yang sangat membuatku menderita ini malah dijadikan sarana memperoleh sesuap nasi oleh makhluk berkaki dua yang rakus di daratan sana. Aku terluka. Sakit. Iritasi. Tapi justru itu yang menjadi kesenangan mereka. Epithelium mantelku sudah hampir kehabisan nacre-nya. Untungnya Tuhan masih berbaik hati membuat itu tidak akan pernah habis.



Aku sadar bahwa dengan deritaku orang lain bisa berbahagia bahkan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain atau mungkin membuat orang lain menderita karena tidak mampu seperti mereka. Tapi aku tak bisa berbuat apapun. Lagi-lagi aku bisa mengutuk berkali-kali jika mengingat ini. Kaki tidak punya. Tangan juga. Bisa apa aku ini. Sigh.


Enam Bulan Kemudian
Sepertinya partikel padat itu sudah cukup menggumpal dalam rongga mantelku. Dan sepertinya memang ini saatnya manusia rakus itu mengambilnya sebagai keuntungan. Enam bulan terakhir ini aku hanya berpikir. Berpikir sangat dalam kalau kata "hanya" itu terkesan sepele. Memang partikel asing itu sangat menyakitiku, membuatku iritasi. Tapi aku juga tak ada arti tanpa kesakitan itu. Justru lewat rasa sakit itu aku menghasilkan sebuah benda padat bulat yang bersinar. Benda yang mengangkat "gengsi" manusia, yang katanya makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan. Jadi aku bisa membuat mereka lebih merasa sempurna lewat hasil dari rasa sakitku itu. Berarti aku jauh lebih sempurna. Aku ada di balik layar terangkatnya kesempurnaan mereka. Yah dan ternyata benda asing yang menyakitkan dan luka yang kurasakan memang tidak membuatku jadi lebih baik secara nyata. Tapi pada hakikatnya Ya! Dan aku pun tersenyum untuk menikmati kembali kesakitan yang sempurna itu. Selamat datang enam bulan mendatang.

Senin, 23 Mei 2011

Pasangan Itu Ibarat Cangkir


Setiap orang punya ketertarikannya sendiri
Setiap orang punya pilihannya masing-masing
Setiap orang punya alasan tertentu
Untuk memilikinya

Ada orang yang memilih cangkir keramik karena bentuknya yang menarik
Ada yang lebih menyukai cangkir porselen karena terlihat keren
Ada juga yang memakai cangkir plastik karena lebih tahan lama walaupun tidak cantik

Begitu pula dengan kebutuhannya
Ada memerlukan cangkir untuk dipakai sebagai wadah air minum
Ada juga yang memiliki cangkir hanya sekedar untuk dipajang
Bahkan tidak sedikit yang membeli cangkir karena merupakan salah satu barang antik


Fungsi dasar cangkir adalah sebagai wadah kecil penampung air
Agar dapat kita minum untuk menghilangkan dahaga yang membelenggu
Karena manusia dapat hidup seminggu dengan menahan rasa lapar tapi tidak dengan rasa haus

Begitu pula dengan pasangan
Pasangan diciptakan untuk bisa saling mengisi
Mengisi kehausan, apapun itu bentuknya
Kehausan akan rasa nyaman
Kehausan akan perlindungan
Kehausan akan kebahagiaan
Tergantung apa yang sedang kita butuhkan

Pasangan ibarat cangkir
Seorang kolektor cangkir antik tentu saja membeli cangkir hanya untuk melengkapi koleksinya
Cangkir dibeli karena unik
Cangkir dibeli karena tampilannya menarik
Cangkir dibeli karena jika dipajang akan terlihat apik
Bahkan cangkir dibeli hanya untuk dapat dipamerkan pada orang lain

Tapi, apakah cangkir-cangkir mahal itu memenuhi kodratnya sebagai sebuah c.a.n.g.k.i.r?
Apakah jika sang kolektor haus, ia rela menggunakan cangkir-cangkir tersebut?
Tidak
Lalu apakah hanya dengan mengagumi si cangkir antik, dahaga sang kolektor akan hilang seketika?
Jawabnya Tidak
Apakah kebanggaan akan kekaguman orang-orang yang melihat cangkir antik tersebut bisa membuat sang kolektor bertahan dari mati kehausan?
Jawabnya juga Tidak

Lalu bagaimana jika hanya cangkir antik itu saja yang tersisa sebagai wadah air minum?
Apakah kita mau hanya memiliki cangkir yang menarik tapi retak jika kemudian diisi air hangat untuk menyeduh teh?
Apakah kita mau hanya memiliki cangkir yang cantik tapi kemudian pudar kecantikannya setelah kita tuangkan kopi kedalamnya?

Saya punya cangkir yang menarik, setidaknya bagi saya sendiri
Saya punya cangkir yang tidak hanya bisa saya kagumi tapi juga bisa berkaca dan mengagumi diri saya sendiri
Saya memang tidak memiliki cangkir yang antik tapi saya punya cangkir yang memenuhi fungsi dasarnya yaitu, menghilangkan dahaga saat saya haus dan mungkin akan mati karenanya

Lalu bagaimanakah dengan anda?
Apa cangkir yang ada dalam genggaman anda sudah memenuhi fungsi dasarnya?

Jumat, 20 Mei 2011

Penyesalan Kucing

Aku terus saja merapatkan diri di bagian belakang kandang sementara tangan-tangan kecil itu terus saja ingin menggapaiku. Aku tak mau lagi, tak mau menyesal lagi. Memang aneh, biasanya jenisku suka sekali berlarian keluar, memeluk tuannya, memainkan benang bahkan menaiki dan mencabik2 sofa. Namun sudah dua tahun belakangan ini aku tak mau lagi. Hidupku bagai asing dari aturannya.


Kala itu, seorang gadis kecil memilihku dari pet shop. Ia tersenyum padaku dari balik kaca dan aku pun merasa suka padanya. Tumbuh bersama, ia merawatku dengan baik. Tubuhku yang dulu kerempeng sekarang mulai berisi, gagah. Ya, kebetulan aku memang pejantan karena orang tua si gadis kecil tidak mau banyak kucing-kucing kecil tumbuh. Bulu-buluku yang dulu bahkan tidak mampu menutupi seluruh bagian tubuhku kini tumbuh lebat. Entah apa yang telah diberikannya padaku. Namun aku merasa senang, bukan karena perubahan dalam diriku saja tapi juga karena aku menyayangi dia, bahkan jatuh cinta kepadanya. Aneh memang, tapi itu yang kurasakan.


Hari itu, pagi yang indah. Seperti biasa, gadis kecil itu selalu mengajakku bermain keluar kandang di minggu pagi. Kami melompat bersama, bercengkrama, aku mengeluskan leherku di pergelangan kakinya. Mungkin karena sudah seminggu lebih ia tak bertemu denganku, terpancar kerinduan mendalam dari matanya. Ia melihat dalam ke arahku, dan berkata bahwa aku tampak lebih lucu dan menggemaskan, buluku terlihat indah. Ia pun menggendongku, memelukku erat, sangat erat bahkan terlalu erat sehingga aku tidak bisa bernapas. Otakku mulai kekurangan oksigen dan aku mulai tak terkendali. Hanya teriakan itu saja yang kuingat jelas, yang semakin lama semakin hilang. Dan tak terdengar lagi, baik teriakan, canda bahkan suaranya yang meniru suaraku.


Kini aku lebih sering meminta ikan asin, agar bulu-bulu ini merontok. Aku tak mau lagi menjadi lucu dan menggemaskan. Aku tak mau lagi memeluk manusia apalagi dipeluk. Aku tak mau lagi bersentuhan dengan makhluk berkaki dua itu. Bukan, bukan karena aku benci mereka tapi justru karena aku benci diriku sendiri. Diriku yang pernah menyakiti salah satu dari mereka yang sangat kusayangi, yang kucintai. Dan kini, kubalas dengan menyakiti diriku sendiri yang sepi dan tak berkawan lagi.








Kamis, 19 Mei 2011

Kisah Monkichi

Ini kali ketiga monkichi membuat para pengunjung gusar. Ia berayun dan meraih kacamata seorang pria tua berambut agak kecoklatan yang sepertinya baru saja di cat untuk menutupi rambut berubannya. Lelaki tua itu terlihat sangat kesal karena kacamata Oakley yang baru saja dua minggu dibelinya walaupun hanya KW1 sekarang berada di ujung sana dimainkan oleh seekor kera kecil. 3 hari sebelumnya, monkichi berulah lebih nakal lagi, ia menjambak rambut panjang seorang anak kecil yang teurai hanya mengenakan bando. Hampir-hampir anak tersebut jatuh dan tertarik masuk ke dalam kandang. Menangis tak hentinya gadis kecil itu bukan hanya sampai pulang tapi juga hingga sampai di rumah dan waktunya tidur. Trauma dan tak mau lagi ia datang ke kandang monkichi kalau perlu tidak sama sekali datang ke kebun binatang itu lagi. Begitu sumpah serapahnya.


Sebulan yang lalu bahkan seorang wanita muda masuk UGD akibat ulah monkichi. Salahnya pula wanita itu mengenakan tank top dan celana pendek 10 cm diatas lutut. Alhasil ketika ia mencoba memberikan pisang monkichi, alih-alih pisang diambilnya justru bahu, pundak dan paha ke bawah wanita muda yang berusia 26 tahun itu yang diraihnya. Tak ayal mengalir darah dari tubuh wanita muda bertubuh putih dan sintal itu. Tak heran juga karena monkichi memang tidak pernah menggunting kukunya, namanya juga kera.

Dari sekian insiden tersebut monkichi sangat menikmatinya. Ia selalu tertawa khas “uuu aaa uuu aaaa, wauwawawauwawuauwa” justru ketika ada pengunjung yang kesal, menangis atau bahkan menjerit kesakitan. Kepuasan terpancar dari wajahnya, guratan kebahagian diatas penderitaan orang lain lah yang membuat dia bisa terus hidup dan bertahan di dalam sebuah tabung berjeruji dengan jari-jari empat meter. Ia merasa hidup ketika orang lain justru bersedih dan mungkin buruknya hampir kehilangan kesempatan untuk merasa bahagia di dunia alias mati.

Sebenarnya ulah monkichi bukan sekedar iseng belaka atau ia memang jahat. Tidak, ia tidak jahat. Kelakuan minusnya hanyalah sekedar penyamar karena rasa malunya terhadap dirinya sendiri. Ia malu. Malu karena setiap hari orang menyodorkan pisang atau melemparkan kacang. Toh ia tidak perlu itu, ia sudah cukup makan disini. Ia sedih. Sedih karena terkungkung dalam tempat ia tidak bebas, terbatas dan tidak lepas. Ia marah. Marah karena diciptakan sebagai kera oleh Tuhan. Mengapa bukan merak yang memiliki bulu indah yang dikagumi orang yang datang ataupun harimau yang bergigi dan perkasa sehingga orang takut padanya. Kenapa harus kera? Kenapa?

Makanya, setiap hari monkichi selalu membuat orang kesal, sebal, benci, sakit hati, dan merasa terhinakan karena dia ingin menutupi rasa bencinya terhadap dirinya sendiri yang justru jauh lebih tercela.

Belajar Sabar dari Pisau




Lelah dan tak bersemangat namun semakin tajam, walau begitu pisau terus meratapi dirinya yang merasa tak berguna. Ia pernah digunakan, dulu sekali waktu si pria tua ingin memasak bayam. Tetapi, itu pun tak lama, pisau kemudian hanya diasah saja setelah itu kembali ke dalam lemari kaca. Si pria tua dulu menemukannya diantara rongsokan besi, kemudian diamplas, ditempa dan diasah. Hal yang terakhir yang paling sering dilakukan. Suatu hari si pria tua membuka lemari kaca dan mengambil pisau, betapa gembiranya pisau karena ia mengira akan bertemu buah, sayur atau setidaknya cabai. Namun lagi-lagi besi asahan yang ditemuinya, hingga bosan.

Tapi tak lama ia melihat wajan, kompor, panci dan teman-temannya. Si pria tua membuka lemari pendingin dan mengambil tuan apel dari dalam. Yap, akhirnya pisau bertemu dengan apel, betapa rindu ia merasakan tubuhnya bergesekan dengan benda lain selain logam, betapa ia ingin mendengar “duk” saat ia mendarat di talenan.

Akhirnya, setelah 22 tahun terus diasah, ia merasa bisa menjadi pisau sebagaimana hakikatnya. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Ya, hanya sekali itu saja, ia pun masuk lagi ke lemari kaca dan berkawan dengan asahan. Terus seperti itu tanpa pernah lagi ia merasakan perasaan saat menyentuh apel tiga tahun yang lalu.

Di dalam lemari kaca, pisau terus menghujat dirinya. Ia merasa benci, teramat sangat. Bukan hanya kepada si pria tua yang tidak mengacuhkannya, tapi juga kepada dirinya sendiri karena tak berguna. Di ujung pintu si pria tua pun masuk dengan membawa plastik berisi seonggok daging, ia menaruhnya di lemari pendingin. Ia pun melangkah ke lemari kaca. Si pria tua pun tersenyum lebar sambil memandangi pisau yang selama ini terus-menerus diasahnya. Ya, inilah waktu yang tepat!