
Sebulan yang lalu bahkan seorang wanita muda masuk UGD akibat ulah monkichi. Salahnya pula wanita itu mengenakan tank top dan celana pendek 10 cm diatas lutut. Alhasil ketika ia mencoba memberikan pisang monkichi, alih-alih pisang diambilnya justru bahu, pundak dan paha ke bawah wanita muda yang berusia 26 tahun itu yang diraihnya. Tak ayal mengalir darah dari tubuh wanita muda bertubuh putih dan sintal itu. Tak heran juga karena monkichi memang tidak pernah menggunting kukunya, namanya juga kera.
Dari sekian insiden tersebut monkichi sangat menikmatinya. Ia selalu tertawa khas “uuu aaa uuu aaaa, wauwawawauwawuauwa” justru ketika ada pengunjung yang kesal, menangis atau bahkan menjerit kesakitan. Kepuasan terpancar dari wajahnya, guratan kebahagian diatas penderitaan orang lain lah yang membuat dia bisa terus hidup dan bertahan di dalam sebuah tabung berjeruji dengan jari-jari empat meter. Ia merasa hidup ketika orang lain justru bersedih dan mungkin buruknya hampir kehilangan kesempatan untuk merasa bahagia di dunia alias mati.
Sebenarnya ulah monkichi bukan sekedar iseng belaka atau ia memang jahat. Tidak, ia tidak jahat. Kelakuan minusnya hanyalah sekedar penyamar karena rasa malunya terhadap dirinya sendiri. Ia malu. Malu karena setiap hari orang menyodorkan pisang atau melemparkan kacang. Toh ia tidak perlu itu, ia sudah cukup makan disini. Ia sedih. Sedih karena terkungkung dalam tempat ia tidak bebas, terbatas dan tidak lepas. Ia marah. Marah karena diciptakan sebagai kera oleh Tuhan. Mengapa bukan merak yang memiliki bulu indah yang dikagumi orang yang datang ataupun harimau yang bergigi dan perkasa sehingga orang takut padanya. Kenapa harus kera? Kenapa?
Makanya, setiap hari monkichi selalu membuat orang kesal, sebal, benci, sakit hati, dan merasa terhinakan karena dia ingin menutupi rasa bencinya terhadap dirinya sendiri yang justru jauh lebih tercela.