Rabu, 12 September 2012

Cinta dan Perkawinan ala Plato

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, 
"Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)"

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta"


Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, 
"Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"
Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

Moral of The Story :
Begitu banyak pilihan dalam hidup kita seperti layaknya ranting-ranting dan pepohonan di dalam hutan, namun kita haruslah menentukan satu pilihan. Dan jika kita terlalu memilih, pada akhirnya kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Kesempatan itu hanya sekali dan kita harus terus maju seperti waktu yang terus berputar dan tidak dapat diulang kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.

Senin, 11 Juni 2012

Wanita Bagai Perhiasan Terindah


Dunia adalah perhiasan.
Sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah.


Perhiasan terindah adalah wanita yang menjaga martabat dirinya di hadapan laki-laki
Perhiasan terindah adalah wanita yang dapat menjaga perasaan laki-laki yang mencintainya
Perhiasan terindah adalah wanita yang tidak dengan mudah mempermainkan hati

Wanita terbaik adalah ia yang bisa menempatkan harkat dan kodrat pada tempatnya
Wanita terbaik adalah ia yang tegar menghadapi masalah dan tidak menunjukkan kesedihannya
Wanita terbaik adalah ia yang menjaga kehormatan dirinya dan pasangannya di depan orang lain

Sesumbar aib diri, pasangan dan orang lain bukanlah cermin wanita sholehah
Prasangka buruk dan pemikiran negatif bukanlah bagian dari wanita sholehah
Berurai air mata, sesal sesaat namun mengulangi lagi perbuatannya bukanlah sikap wanita sholehah

Seorang wanita yang tangguh adalah perhiasan terindah, wanita terbaik dan memiliki sifat sholehah.
Seorang wanita yang tangguh adalah yang bisa melahirkan anak-anak terbaik karena sifat-sifat baik yang dimiliki, diturunkan dan diajarkannya 
Seorang wanita yang tangguh adalah ia yang bisa memikat hati seorang pria yang hebat karena ketangguhannya.


Kamis, 16 Februari 2012

Lupakanlah Cinta Untuk Terus Mencintai

Pemuda itu terus memanjat pohon kelapa setinggi empat meter setiap harinya. Ia tak pernah bosan melakukannya. Tujuannya hanya satu. Ya, hanya ingin mereguk segarnya air kelapa dan menikmati daging buah kelapa.

Pagi-pagi buta ia sudah bersiap dari rumahnya, membawa tali yang membantunya menaiki batang lurus yang bahkan lebih tinggi dari rumahnya dan membawa golok. Dengan hanya memakai celana pendek ia pun berhadapan dengan batang tersebut. Ia pun bersiap, menyentuh lembut batang tersebut seolah berkata "Hai batang, bantu aku untuk memanjatmu hari ini. Bantu aku untuk bisa menikmati hidupku sekaligus membantumu untuk bisa bermanfaat bagi orang lain". Perlahan-lahan ia menaiki batang tersebut sembari memeluknya. Ia pun sampai diatas tidak lebih dari lima menit.

Sesampainya diatas, ia menebas satu buah kelapa yang tampak sudah cukup matang. Ia pun meluncur secepat kilat seolah tidak mau berlama-lama untuk bisa menikmati Kelapa yang bahkan tiap harinya ia cicipi. Ia pun membukanya dan meneguk air kelapa yang segar itu dan menikmati daging buahnya dengan lahap. terkadang saking nikmatnya sampai-sampai air kelapa membasahi tubuhnya. Itu sebab, ia tidak pernah memakai baju saat melakukan ini.

Semua orang terheran-heran. Bagaimana bisa ia bisa tidak bosan merasakan hal yang sama setiap hari. Hingga seorang tua bertanya padanya "Hai nak, mengapa kamu setiap hari minum air dan makan daging buah kelapa? Tidakkah kau bosan nak?". Ia pun menjawab "Wahai pak tua, aku selalu ingin mencicipinya setiap hari karena menjelang malam aku berusaha tidak mengingatnya. Hingga aku terbangun dalam keadaan selalu lupa bagaimana rasa air dan daging buah kelapa itu". Bapak tua itu pun tertegun dan berkata "Jadi itu yang membuatmu selalu tampak bersemangat ketika memanjat pohon kelapa, menebas buahnya dan menikmati rasanya". Dan pemuda itu pun hanya tersenyum dan mengangguk.


Begitulah rasanya ketika kita belum pernah atau lupa merasakan sesuatu. Kita akan bersemangat untuk mencobanya. Sama halnya dengan Cinta. Ketika kita pernah merasakan cinta dan selalu ingat rasanya. Maka kita akan bosan dan mungkin akan mencicipi hal lain. Namun jika kita lupa akan rasanya, akan muncul gairah untuk mencicipinya.

Jadi, ingatlah falsafah Cinta ini. Cinta dapat dipertahankan dengan terus Jatuh Cinta di setiap harinya. Dan cara untuk Jatuh Cinta setiap hari adalah dengan melupakan Rasanya Mencintai. Dengan begitu kita akan selalu bersemangat dan bergairah untuk Merasakannya.

Rabu, 21 Desember 2011

Nafas Cinta



Kesetiaan dalam Cinta, bagaikan Nafas bagi Raga
Raga tak bergerak jika Nafas tak ada sebagai pendorongnya
Raga akan mati tanpa Nafas yang mengaliri di sekujurnya
Raga tak bernyawa tanpa nafas yang mengiringinya
Raga hanyalah seonggok daging dan tulang ketika Nafas telah meninggalkannya

Begitu pun dengan Cinta
Tanpa kesetiaan, apalah arti Cinta
Tanpa kesetiaan, Cinta tak dapat hidup sebagaimana hakikatnya
Tanpa Kesetiaan, Cinta tak lagi membara seperti layaknya
Tanpa Kesetiaan, Cinta tak akan lagi bernilai sebagaimana artinya

Cinta yang ada tanpa Kesetiaan, bagaikan Raga yang tanpa Nafas hanya ada sebagai Pajangan

Selasa, 20 Desember 2011


Pasangan itu harus seperti api dan air.
Ketika api sedang membara karena terpercik, air harus bisa menenangkan dan menghujaninya dengan kesejukan.


Pasangan itu harus seperti kopi dan gula.

Saat kehidupan yang dirasa kopi begitu pahit, gula datang untuk memaniskan atau paling tidak membuat pahitnya tak begitu kentara.


Pasangan itu harus seperti pasir pantai dan ombak.

Jika pasir terinjak oleh kaki dan membuatnya terjejak maka ombak akan memeluknya dan membuatnya utuh seperti sedia kala.

Aku berharap bisa menjadi air yang bisa menyejukkanmu di kala kau sedang membara.
Aku berharap bisa menjadi gula yang justru dapat menambah cita rasa dalam kepahitanmu.

Aku berharap bisa menjadi memelukmu seperti ombak yang memeluk pasir dan membuatnya menjadi dirinya sendiri lagi tanpa bekas apapun.

Jumat, 15 Juli 2011

You Deserve It!


Jika kumbang sudah merasa tak pantas lagi menghisap madu, lalu apa yang bisa bunga lakukan?


Jika imam tak lagi merasa pantas memimpin shalat berjamaah lalu apa yang bisa dilakukan makmum?


Jika raja sudah merasa tak pantas lagi bermahkota dan duduk di singgasana lalu apa lagi yang permaisuri bisa lakukan?

Wahai Kumbang. Merasa pantaslah menghisap maduku...

Wahai Imam. Tetaplah berdiri paling depan dan menuntunku...

Wahai Raja. Kenakanlah mahkotamu dan duduklah di singgasanamu kembali...

Hanya itu yang bisa diucapkan bunga, makmum dan permaisuri dalam hati dan do'anya...




Kamis, 26 Mei 2011

Rasa Sakit yang Menyempurnakan

Lagi dan lagi partikel-partikel asing itu menggangguku. Kerap kali aku tidak tahan. Ingin rasanya aku berubah menjadi makhluk apa saja asal bukan diriku yang sekarang. Ego-ku selalu berteriak Tuhan memang tidak adil. Bahkan sekarang hal-hal yang sangat membuatku menderita ini malah dijadikan sarana memperoleh sesuap nasi oleh makhluk berkaki dua yang rakus di daratan sana. Aku terluka. Sakit. Iritasi. Tapi justru itu yang menjadi kesenangan mereka. Epithelium mantelku sudah hampir kehabisan nacre-nya. Untungnya Tuhan masih berbaik hati membuat itu tidak akan pernah habis.



Aku sadar bahwa dengan deritaku orang lain bisa berbahagia bahkan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain atau mungkin membuat orang lain menderita karena tidak mampu seperti mereka. Tapi aku tak bisa berbuat apapun. Lagi-lagi aku bisa mengutuk berkali-kali jika mengingat ini. Kaki tidak punya. Tangan juga. Bisa apa aku ini. Sigh.


Enam Bulan Kemudian
Sepertinya partikel padat itu sudah cukup menggumpal dalam rongga mantelku. Dan sepertinya memang ini saatnya manusia rakus itu mengambilnya sebagai keuntungan. Enam bulan terakhir ini aku hanya berpikir. Berpikir sangat dalam kalau kata "hanya" itu terkesan sepele. Memang partikel asing itu sangat menyakitiku, membuatku iritasi. Tapi aku juga tak ada arti tanpa kesakitan itu. Justru lewat rasa sakit itu aku menghasilkan sebuah benda padat bulat yang bersinar. Benda yang mengangkat "gengsi" manusia, yang katanya makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan. Jadi aku bisa membuat mereka lebih merasa sempurna lewat hasil dari rasa sakitku itu. Berarti aku jauh lebih sempurna. Aku ada di balik layar terangkatnya kesempurnaan mereka. Yah dan ternyata benda asing yang menyakitkan dan luka yang kurasakan memang tidak membuatku jadi lebih baik secara nyata. Tapi pada hakikatnya Ya! Dan aku pun tersenyum untuk menikmati kembali kesakitan yang sempurna itu. Selamat datang enam bulan mendatang.

Senin, 23 Mei 2011

Pasangan Itu Ibarat Cangkir


Setiap orang punya ketertarikannya sendiri
Setiap orang punya pilihannya masing-masing
Setiap orang punya alasan tertentu
Untuk memilikinya

Ada orang yang memilih cangkir keramik karena bentuknya yang menarik
Ada yang lebih menyukai cangkir porselen karena terlihat keren
Ada juga yang memakai cangkir plastik karena lebih tahan lama walaupun tidak cantik

Begitu pula dengan kebutuhannya
Ada memerlukan cangkir untuk dipakai sebagai wadah air minum
Ada juga yang memiliki cangkir hanya sekedar untuk dipajang
Bahkan tidak sedikit yang membeli cangkir karena merupakan salah satu barang antik


Fungsi dasar cangkir adalah sebagai wadah kecil penampung air
Agar dapat kita minum untuk menghilangkan dahaga yang membelenggu
Karena manusia dapat hidup seminggu dengan menahan rasa lapar tapi tidak dengan rasa haus

Begitu pula dengan pasangan
Pasangan diciptakan untuk bisa saling mengisi
Mengisi kehausan, apapun itu bentuknya
Kehausan akan rasa nyaman
Kehausan akan perlindungan
Kehausan akan kebahagiaan
Tergantung apa yang sedang kita butuhkan

Pasangan ibarat cangkir
Seorang kolektor cangkir antik tentu saja membeli cangkir hanya untuk melengkapi koleksinya
Cangkir dibeli karena unik
Cangkir dibeli karena tampilannya menarik
Cangkir dibeli karena jika dipajang akan terlihat apik
Bahkan cangkir dibeli hanya untuk dapat dipamerkan pada orang lain

Tapi, apakah cangkir-cangkir mahal itu memenuhi kodratnya sebagai sebuah c.a.n.g.k.i.r?
Apakah jika sang kolektor haus, ia rela menggunakan cangkir-cangkir tersebut?
Tidak
Lalu apakah hanya dengan mengagumi si cangkir antik, dahaga sang kolektor akan hilang seketika?
Jawabnya Tidak
Apakah kebanggaan akan kekaguman orang-orang yang melihat cangkir antik tersebut bisa membuat sang kolektor bertahan dari mati kehausan?
Jawabnya juga Tidak

Lalu bagaimana jika hanya cangkir antik itu saja yang tersisa sebagai wadah air minum?
Apakah kita mau hanya memiliki cangkir yang menarik tapi retak jika kemudian diisi air hangat untuk menyeduh teh?
Apakah kita mau hanya memiliki cangkir yang cantik tapi kemudian pudar kecantikannya setelah kita tuangkan kopi kedalamnya?

Saya punya cangkir yang menarik, setidaknya bagi saya sendiri
Saya punya cangkir yang tidak hanya bisa saya kagumi tapi juga bisa berkaca dan mengagumi diri saya sendiri
Saya memang tidak memiliki cangkir yang antik tapi saya punya cangkir yang memenuhi fungsi dasarnya yaitu, menghilangkan dahaga saat saya haus dan mungkin akan mati karenanya

Lalu bagaimanakah dengan anda?
Apa cangkir yang ada dalam genggaman anda sudah memenuhi fungsi dasarnya?

Jumat, 20 Mei 2011

Penyesalan Kucing

Aku terus saja merapatkan diri di bagian belakang kandang sementara tangan-tangan kecil itu terus saja ingin menggapaiku. Aku tak mau lagi, tak mau menyesal lagi. Memang aneh, biasanya jenisku suka sekali berlarian keluar, memeluk tuannya, memainkan benang bahkan menaiki dan mencabik2 sofa. Namun sudah dua tahun belakangan ini aku tak mau lagi. Hidupku bagai asing dari aturannya.


Kala itu, seorang gadis kecil memilihku dari pet shop. Ia tersenyum padaku dari balik kaca dan aku pun merasa suka padanya. Tumbuh bersama, ia merawatku dengan baik. Tubuhku yang dulu kerempeng sekarang mulai berisi, gagah. Ya, kebetulan aku memang pejantan karena orang tua si gadis kecil tidak mau banyak kucing-kucing kecil tumbuh. Bulu-buluku yang dulu bahkan tidak mampu menutupi seluruh bagian tubuhku kini tumbuh lebat. Entah apa yang telah diberikannya padaku. Namun aku merasa senang, bukan karena perubahan dalam diriku saja tapi juga karena aku menyayangi dia, bahkan jatuh cinta kepadanya. Aneh memang, tapi itu yang kurasakan.


Hari itu, pagi yang indah. Seperti biasa, gadis kecil itu selalu mengajakku bermain keluar kandang di minggu pagi. Kami melompat bersama, bercengkrama, aku mengeluskan leherku di pergelangan kakinya. Mungkin karena sudah seminggu lebih ia tak bertemu denganku, terpancar kerinduan mendalam dari matanya. Ia melihat dalam ke arahku, dan berkata bahwa aku tampak lebih lucu dan menggemaskan, buluku terlihat indah. Ia pun menggendongku, memelukku erat, sangat erat bahkan terlalu erat sehingga aku tidak bisa bernapas. Otakku mulai kekurangan oksigen dan aku mulai tak terkendali. Hanya teriakan itu saja yang kuingat jelas, yang semakin lama semakin hilang. Dan tak terdengar lagi, baik teriakan, canda bahkan suaranya yang meniru suaraku.


Kini aku lebih sering meminta ikan asin, agar bulu-bulu ini merontok. Aku tak mau lagi menjadi lucu dan menggemaskan. Aku tak mau lagi memeluk manusia apalagi dipeluk. Aku tak mau lagi bersentuhan dengan makhluk berkaki dua itu. Bukan, bukan karena aku benci mereka tapi justru karena aku benci diriku sendiri. Diriku yang pernah menyakiti salah satu dari mereka yang sangat kusayangi, yang kucintai. Dan kini, kubalas dengan menyakiti diriku sendiri yang sepi dan tak berkawan lagi.








Kamis, 19 Mei 2011

Kisah Monkichi

Ini kali ketiga monkichi membuat para pengunjung gusar. Ia berayun dan meraih kacamata seorang pria tua berambut agak kecoklatan yang sepertinya baru saja di cat untuk menutupi rambut berubannya. Lelaki tua itu terlihat sangat kesal karena kacamata Oakley yang baru saja dua minggu dibelinya walaupun hanya KW1 sekarang berada di ujung sana dimainkan oleh seekor kera kecil. 3 hari sebelumnya, monkichi berulah lebih nakal lagi, ia menjambak rambut panjang seorang anak kecil yang teurai hanya mengenakan bando. Hampir-hampir anak tersebut jatuh dan tertarik masuk ke dalam kandang. Menangis tak hentinya gadis kecil itu bukan hanya sampai pulang tapi juga hingga sampai di rumah dan waktunya tidur. Trauma dan tak mau lagi ia datang ke kandang monkichi kalau perlu tidak sama sekali datang ke kebun binatang itu lagi. Begitu sumpah serapahnya.


Sebulan yang lalu bahkan seorang wanita muda masuk UGD akibat ulah monkichi. Salahnya pula wanita itu mengenakan tank top dan celana pendek 10 cm diatas lutut. Alhasil ketika ia mencoba memberikan pisang monkichi, alih-alih pisang diambilnya justru bahu, pundak dan paha ke bawah wanita muda yang berusia 26 tahun itu yang diraihnya. Tak ayal mengalir darah dari tubuh wanita muda bertubuh putih dan sintal itu. Tak heran juga karena monkichi memang tidak pernah menggunting kukunya, namanya juga kera.

Dari sekian insiden tersebut monkichi sangat menikmatinya. Ia selalu tertawa khas “uuu aaa uuu aaaa, wauwawawauwawuauwa” justru ketika ada pengunjung yang kesal, menangis atau bahkan menjerit kesakitan. Kepuasan terpancar dari wajahnya, guratan kebahagian diatas penderitaan orang lain lah yang membuat dia bisa terus hidup dan bertahan di dalam sebuah tabung berjeruji dengan jari-jari empat meter. Ia merasa hidup ketika orang lain justru bersedih dan mungkin buruknya hampir kehilangan kesempatan untuk merasa bahagia di dunia alias mati.

Sebenarnya ulah monkichi bukan sekedar iseng belaka atau ia memang jahat. Tidak, ia tidak jahat. Kelakuan minusnya hanyalah sekedar penyamar karena rasa malunya terhadap dirinya sendiri. Ia malu. Malu karena setiap hari orang menyodorkan pisang atau melemparkan kacang. Toh ia tidak perlu itu, ia sudah cukup makan disini. Ia sedih. Sedih karena terkungkung dalam tempat ia tidak bebas, terbatas dan tidak lepas. Ia marah. Marah karena diciptakan sebagai kera oleh Tuhan. Mengapa bukan merak yang memiliki bulu indah yang dikagumi orang yang datang ataupun harimau yang bergigi dan perkasa sehingga orang takut padanya. Kenapa harus kera? Kenapa?

Makanya, setiap hari monkichi selalu membuat orang kesal, sebal, benci, sakit hati, dan merasa terhinakan karena dia ingin menutupi rasa bencinya terhadap dirinya sendiri yang justru jauh lebih tercela.