Rabu, 12 September 2012
Cinta dan Perkawinan ala Plato
Senin, 11 Juni 2012
Wanita Bagai Perhiasan Terindah

Perhiasan terindah adalah wanita yang menjaga martabat dirinya di hadapan laki-laki
Kamis, 16 Februari 2012
Lupakanlah Cinta Untuk Terus Mencintai
Pagi-pagi buta ia sudah bersiap dari rumahnya, membawa tali yang membantunya menaiki batang lurus yang bahkan lebih tinggi dari rumahnya dan membawa golok. Dengan hanya memakai celana pendek ia pun berhadapan dengan batang tersebut. Ia pun bersiap, menyentuh lembut batang tersebut seolah berkata "Hai batang, bantu aku untuk memanjatmu hari ini. Bantu aku untuk bisa menikmati hidupku sekaligus membantumu untuk bisa bermanfaat bagi orang lain". Perlahan-lahan ia menaiki batang tersebut sembari memeluknya. Ia pun sampai diatas tidak lebih dari lima menit.
Sesampainya diatas, ia menebas satu buah kelapa yang tampak sudah cukup matang. Ia pun meluncur secepat kilat seolah tidak mau berlama-lama untuk bisa menikmati Kelapa yang bahkan tiap harinya ia cicipi. Ia pun membukanya dan meneguk air kelapa yang segar itu dan menikmati daging buahnya dengan lahap. terkadang saking nikmatnya sampai-sampai air kelapa membasahi tubuhnya. Itu sebab, ia tidak pernah memakai baju saat melakukan ini.
Semua orang terheran-heran. Bagaimana bisa ia bisa tidak bosan merasakan hal yang sama setiap hari. Hingga seorang tua bertanya padanya "Hai nak, mengapa kamu setiap hari minum air dan makan daging buah kelapa? Tidakkah kau bosan nak?". Ia pun menjawab "Wahai pak tua, aku selalu ingin mencicipinya setiap hari karena menjelang malam aku berusaha tidak mengingatnya. Hingga aku terbangun dalam keadaan selalu lupa bagaimana rasa air dan daging buah kelapa itu". Bapak tua itu pun tertegun dan berkata "Jadi itu yang membuatmu selalu tampak bersemangat ketika memanjat pohon kelapa, menebas buahnya dan menikmati rasanya". Dan pemuda itu pun hanya tersenyum dan mengangguk.

Begitulah rasanya ketika kita belum pernah atau lupa merasakan sesuatu. Kita akan bersemangat untuk mencobanya. Sama halnya dengan Cinta. Ketika kita pernah merasakan cinta dan selalu ingat rasanya. Maka kita akan bosan dan mungkin akan mencicipi hal lain. Namun jika kita lupa akan rasanya, akan muncul gairah untuk mencicipinya.
Jadi, ingatlah falsafah Cinta ini. Cinta dapat dipertahankan dengan terus Jatuh Cinta di setiap harinya. Dan cara untuk Jatuh Cinta setiap hari adalah dengan melupakan Rasanya Mencintai. Dengan begitu kita akan selalu bersemangat dan bergairah untuk Merasakannya.
Rabu, 21 Desember 2011
Nafas Cinta

Kesetiaan dalam Cinta, bagaikan Nafas bagi Raga
Raga tak bergerak jika Nafas tak ada sebagai pendorongnya
Raga akan mati tanpa Nafas yang mengaliri di sekujurnya
Raga tak bernyawa tanpa nafas yang mengiringinya
Raga hanyalah seonggok daging dan tulang ketika Nafas telah meninggalkannya
Tanpa kesetiaan, apalah arti Cinta
Tanpa kesetiaan, Cinta tak dapat hidup sebagaimana hakikatnya
Tanpa Kesetiaan, Cinta tak lagi membara seperti layaknya
Tanpa Kesetiaan, Cinta tak akan lagi bernilai sebagaimana artinya
Cinta yang ada tanpa Kesetiaan, bagaikan Raga yang tanpa Nafas hanya ada sebagai Pajangan
Selasa, 20 Desember 2011

Pasangan itu harus seperti api dan air.
Ketika api sedang membara karena terpercik, air harus bisa menenangkan dan menghujaninya dengan kesejukan.
Pasangan itu harus seperti kopi dan gula.
Saat kehidupan yang dirasa kopi begitu pahit, gula datang untuk memaniskan atau paling tidak membuat pahitnya tak begitu kentara.
Pasangan itu harus seperti pasir pantai dan ombak.
Jika pasir terinjak oleh kaki dan membuatnya terjejak maka ombak akan memeluknya dan membuatnya utuh seperti sedia kala.
Aku berharap bisa menjadi air yang bisa menyejukkanmu di kala kau sedang membara.
Aku berharap bisa menjadi gula yang justru dapat menambah cita rasa dalam kepahitanmu.
Aku berharap bisa menjadi memelukmu seperti ombak yang memeluk pasir dan membuatnya menjadi dirinya sendiri lagi tanpa bekas apapun.
Jumat, 15 Juli 2011
You Deserve It!

Jika kumbang sudah merasa tak pantas lagi menghisap madu, lalu apa yang bisa bunga lakukan?
Jika imam tak lagi merasa pantas memimpin shalat berjamaah lalu apa yang bisa dilakukan makmum?
Jika raja sudah merasa tak pantas lagi bermahkota dan duduk di singgasana lalu apa lagi yang permaisuri bisa lakukan?
Wahai Imam. Tetaplah berdiri paling depan dan menuntunku...
Wahai Raja. Kenakanlah mahkotamu dan duduklah di singgasanamu kembali...
Hanya itu yang bisa diucapkan bunga, makmum dan permaisuri dalam hati dan do'anya...
Kamis, 26 Mei 2011
Rasa Sakit yang Menyempurnakan

Aku sadar bahwa dengan deritaku orang lain bisa berbahagia bahkan tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain atau mungkin membuat orang lain menderita karena tidak mampu seperti mereka. Tapi aku tak bisa berbuat apapun. Lagi-lagi aku bisa mengutuk berkali-kali jika mengingat ini. Kaki tidak punya. Tangan juga. Bisa apa aku ini. Sigh.
Enam Bulan Kemudian
Sepertinya partikel padat itu sudah cukup menggumpal dalam rongga mantelku. Dan sepertinya memang ini saatnya manusia rakus itu mengambilnya sebagai keuntungan. Enam bulan terakhir ini aku hanya berpikir. Berpikir sangat dalam kalau kata "hanya" itu terkesan sepele. Memang partikel asing itu sangat menyakitiku, membuatku iritasi. Tapi aku juga tak ada arti tanpa kesakitan itu. Justru lewat rasa sakit itu aku menghasilkan sebuah benda padat bulat yang bersinar. Benda yang mengangkat "gengsi" manusia, yang katanya makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan. Jadi aku bisa membuat mereka lebih merasa sempurna lewat hasil dari rasa sakitku itu. Berarti aku jauh lebih sempurna. Aku ada di balik layar terangkatnya kesempurnaan mereka. Yah dan ternyata benda asing yang menyakitkan dan luka yang kurasakan memang tidak membuatku jadi lebih baik secara nyata. Tapi pada hakikatnya Ya! Dan aku pun tersenyum untuk menikmati kembali kesakitan yang sempurna itu. Selamat datang enam bulan mendatang.
Senin, 23 Mei 2011
Pasangan Itu Ibarat Cangkir

Setiap orang punya ketertarikannya sendiri
Setiap orang punya pilihannya masing-masing
Setiap orang punya alasan tertentu
Untuk memilikinya
Ada orang yang memilih cangkir keramik karena bentuknya yang menarik
Ada yang lebih menyukai cangkir porselen karena terlihat keren
Ada juga yang memakai cangkir plastik karena lebih tahan lama walaupun tidak cantik
Begitu pula dengan kebutuhannya
Ada memerlukan cangkir untuk dipakai sebagai wadah air minum
Ada juga yang memiliki cangkir hanya sekedar untuk dipajang
Bahkan tidak sedikit yang membeli cangkir karena merupakan salah satu barang antik
Fungsi dasar cangkir adalah sebagai wadah kecil penampung air
Agar dapat kita minum untuk menghilangkan dahaga yang membelenggu
Karena manusia dapat hidup seminggu dengan menahan rasa lapar tapi tidak dengan rasa haus
Begitu pula dengan pasangan
Pasangan diciptakan untuk bisa saling mengisi
Mengisi kehausan, apapun itu bentuknya
Kehausan akan rasa nyaman
Kehausan akan perlindungan
Kehausan akan kebahagiaan
Tergantung apa yang sedang kita butuhkan
Pasangan ibarat cangkir
Seorang kolektor cangkir antik tentu saja membeli cangkir hanya untuk melengkapi koleksinya
Cangkir dibeli karena unik
Cangkir dibeli karena tampilannya menarik
Cangkir dibeli karena jika dipajang akan terlihat apik
Bahkan cangkir dibeli hanya untuk dapat dipamerkan pada orang lain
Tapi, apakah cangkir-cangkir mahal itu memenuhi kodratnya sebagai sebuah c.a.n.g.k.i.r?
Apakah jika sang kolektor haus, ia rela menggunakan cangkir-cangkir tersebut?
Tidak
Lalu apakah hanya dengan mengagumi si cangkir antik, dahaga sang kolektor akan hilang seketika?
Jawabnya Tidak
Apakah kebanggaan akan kekaguman orang-orang yang melihat cangkir antik tersebut bisa membuat sang kolektor bertahan dari mati kehausan?
Jawabnya juga Tidak
Lalu bagaimana jika hanya cangkir antik itu saja yang tersisa sebagai wadah air minum?
Apakah kita mau hanya memiliki cangkir yang menarik tapi retak jika kemudian diisi air hangat untuk menyeduh teh?
Apakah kita mau hanya memiliki cangkir yang cantik tapi kemudian pudar kecantikannya setelah kita tuangkan kopi kedalamnya?
Saya punya cangkir yang menarik, setidaknya bagi saya sendiri
Saya punya cangkir yang tidak hanya bisa saya kagumi tapi juga bisa berkaca dan mengagumi diri saya sendiri
Saya memang tidak memiliki cangkir yang antik tapi saya punya cangkir yang memenuhi fungsi dasarnya yaitu, menghilangkan dahaga saat saya haus dan mungkin akan mati karenanya
Lalu bagaimanakah dengan anda?
Apa cangkir yang ada dalam genggaman anda sudah memenuhi fungsi dasarnya?
Jumat, 20 Mei 2011
Penyesalan Kucing
Kala itu, seorang gadis kecil memilihku dari pet shop. Ia tersenyum padaku dari balik kaca dan aku pun merasa suka padanya. Tumbuh bersama, ia merawatku dengan baik. Tubuhku yang dulu kerempeng sekarang mulai berisi, gagah. Ya, kebetulan aku memang pejantan karena orang tua si gadis kecil tidak mau banyak kucing-kucing kecil tumbuh. Bulu-buluku yang dulu bahkan tidak mampu menutupi seluruh bagian tubuhku kini tumbuh lebat. Entah apa yang telah diberikannya padaku. Namun aku merasa senang, bukan karena perubahan dalam diriku saja tapi juga karena aku menyayangi dia, bahkan jatuh cinta kepadanya. Aneh memang, tapi itu yang kurasakan.
Hari itu, pagi yang indah. Seperti biasa, gadis kecil itu selalu mengajakku bermain keluar kandang di minggu pagi. Kami melompat bersama, bercengkrama, aku mengeluskan leherku di pergelangan kakinya. Mungkin karena sudah seminggu lebih ia tak bertemu denganku, terpancar kerinduan mendalam dari matanya. Ia melihat dalam ke arahku, dan berkata bahwa aku tampak lebih lucu dan menggemaskan, buluku terlihat indah. Ia pun menggendongku, memelukku erat, sangat erat bahkan terlalu erat sehingga aku tidak bisa bernapas. Otakku mulai kekurangan oksigen dan aku mulai tak terkendali. Hanya teriakan itu saja yang kuingat jelas, yang semakin lama semakin hilang. Dan tak terdengar lagi, baik teriakan, canda bahkan suaranya yang meniru suaraku.
Kini aku lebih sering meminta ikan asin, agar bulu-bulu ini merontok. Aku tak mau lagi menjadi lucu dan menggemaskan. Aku tak mau lagi memeluk manusia apalagi dipeluk. Aku tak mau lagi bersentuhan dengan makhluk berkaki dua itu. Bukan, bukan karena aku benci mereka tapi justru karena aku benci diriku sendiri. Diriku yang pernah menyakiti salah satu dari mereka yang sangat kusayangi, yang kucintai. Dan kini, kubalas dengan menyakiti diriku sendiri yang sepi dan tak berkawan lagi.

Kamis, 19 Mei 2011
Kisah Monkichi

Sebulan yang lalu bahkan seorang wanita muda masuk UGD akibat ulah monkichi. Salahnya pula wanita itu mengenakan tank top dan celana pendek 10 cm diatas lutut. Alhasil ketika ia mencoba memberikan pisang monkichi, alih-alih pisang diambilnya justru bahu, pundak dan paha ke bawah wanita muda yang berusia 26 tahun itu yang diraihnya. Tak ayal mengalir darah dari tubuh wanita muda bertubuh putih dan sintal itu. Tak heran juga karena monkichi memang tidak pernah menggunting kukunya, namanya juga kera.
Dari sekian insiden tersebut monkichi sangat menikmatinya. Ia selalu tertawa khas “uuu aaa uuu aaaa, wauwawawauwawuauwa” justru ketika ada pengunjung yang kesal, menangis atau bahkan menjerit kesakitan. Kepuasan terpancar dari wajahnya, guratan kebahagian diatas penderitaan orang lain lah yang membuat dia bisa terus hidup dan bertahan di dalam sebuah tabung berjeruji dengan jari-jari empat meter. Ia merasa hidup ketika orang lain justru bersedih dan mungkin buruknya hampir kehilangan kesempatan untuk merasa bahagia di dunia alias mati.
Sebenarnya ulah monkichi bukan sekedar iseng belaka atau ia memang jahat. Tidak, ia tidak jahat. Kelakuan minusnya hanyalah sekedar penyamar karena rasa malunya terhadap dirinya sendiri. Ia malu. Malu karena setiap hari orang menyodorkan pisang atau melemparkan kacang. Toh ia tidak perlu itu, ia sudah cukup makan disini. Ia sedih. Sedih karena terkungkung dalam tempat ia tidak bebas, terbatas dan tidak lepas. Ia marah. Marah karena diciptakan sebagai kera oleh Tuhan. Mengapa bukan merak yang memiliki bulu indah yang dikagumi orang yang datang ataupun harimau yang bergigi dan perkasa sehingga orang takut padanya. Kenapa harus kera? Kenapa?
Makanya, setiap hari monkichi selalu membuat orang kesal, sebal, benci, sakit hati, dan merasa terhinakan karena dia ingin menutupi rasa bencinya terhadap dirinya sendiri yang justru jauh lebih tercela.

